Sabtu, 01 November 2008

Perkawinan


Adalah datangnya cinta sehati
Menggubah prosa kehidupan dalam himne-himne nyanyian kebahagiaan
Melapas rindu dalam takdir cinta
Menyambung jiwa merangkul harapan

Dan perkawinan adalah penyatu dua jiwa,dalam sebuah takdir cinta yang kuat menghapuskan iri hati
Laksana cincin emas yang terangkai oleh pandangan mata
Dan berakhir dengan keabadian
Sebagaimana berseminya hati menjelma bunga diatas ranting pohon kehidupan

Sabtu, 25 Oktober 2008

Berserah Diri


Suatu musibah telah menimpa seorang teman. Kendaraan yang ditumpanginya dalam suatu perjalanan piknik mengalami kecelakaan. Mobilnya ringsek berat. Istri dan kedua anaknya meninggal. Ia sendiri luka berat. Hari-hari setelah kecelakaan merupakan kesedihan berat baginya. Dan lelaki itu pun mempunyai kebiasaan baru: suka murung dan bergumam. ''Seandainya saya tak mengajak mereka bertamasya, barangkali mereka masih hidup,'' katanya seraya menarik nafas panjang seakan mau melepaskan beban derita itu. Dalam keadaan seperti itu, kesedihan yang berkepanjangan tentu tak ada gunanya dan tak akan menyelesaikan masalah. Sikap yang terbaik adalah berserah diri, tawakkal. Islam sendiri arti harfiahnya adalah pasrah. Dan tawakal adalah sikap pasrah pada setiap persoalan, dengan mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah.

Namun yang harus diingat dalam berserah diri ini, tawakal adalah batas akhir upaya. Bukan tawakal namanya bila seseorang belum mencoba dan berusaha. Dan sikap seperti inilah yang selalu dinasihatkan Nabi SAW kepada sahabatnya. Suatu kali, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Hibban, ada seorang laki-laki menghadap Rasulullah SAW. ''Ya Rasulullah, saya melepaskan onta milik saya, kemudian setelah itu bolehkah saya bertawakal?'' tanyanya. ''Ikat dan tambatkan (ontamu) dulu,'' jawab beliau, ''lalu bertawakallah.'' Dengan kata lain, Nabi SAW melarang orang tadi bertawakal sebelum mengikatkan onta yang mau ditinggalkan. Kalau dibiarkan lepas, ada kemungkinan onta itu akan lari dan kemudian hilang.

Diriwayatkan oleh Said bin Musyayyab, sebagaimana dikutip Shekh Muhammad bin Abu Bakr dalam kitabnya al-Mawaidh al-'Usfuriyah, bahwa suatu hari Rasulullah bertandang ke rumah Ali bin Abi Thalib dan menanyakan kesehatan sahabat dan sekaligus menantunya itu. Ali pun menjawab, ''Aku berada dalam empat kesedihan: Di rumahku tak ada makanan selain air. Aku memikirkan anak-anakku. Aku memikirkan Allah dan hari kemudian. Dan aku memikirkan malaikat maut.'' Baginda Nabi Muhammad SAW pun menjelaskan, ''Ketahuilah wahai putra Abi Thalib, rezeki manusia itu di tanganNya. Sedangkan kesedihan itu tak bisa membawa mudlarat ataupun manfaat. Karena itu bertawakallah, niscaya engkau menjadi teman Allah.''

Kekawatiran


Bermacam kekhawatiran menyelimuti diri manusia, termasuk dalam membelanjakan harta seperti telah diperintahkan Allah. Kekhawatiran ini berpangkal pada sejumlah keinginan untuk pemuasan material yang tampak, misalnya ingin membuat rumah mewah, beli mobil bagus, atau sekadar makan cukup.

Ada tips dari Alquran untuk menghilangkan segala kekhawatiran itu, yaitu beristiqamah (Q. S. 41: 30). Allah SWT pun berfirman: ''Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati'' (Q. S. 2: 274).

Dalam kitab Riyaadhush Shalihiin tersebut sebuah kisah dari Imam Bukhari, bahwa Abu Hurairah sering tidak makan. Untuk menahan laparnya, dia menekan perutnya ke tanah karena lapar atau mengganjal perutnya dengan batu. Suatu hari, Abu Hurairah duduk di jalanan. Mendadak Nabi SAW lewat dan tersenyum melihatnya. Lalu Rasulullah mengajaknya ikut. Sesampai di rumah, Rasul menemukan segelas susu. Beliau lalu bertanya kepada istrinya, ''Dari manakah susu ini?''

''Si Anu telah mengirimkan hadiah untukmu,'' jawab istrinya. Rasulullah menyuruh Abu Hurairah memanggil ahl shuffah (orang-orang yang tak berumah atau keluarga). Setiap mendapat sedekah, Nabi memang mengirimkannya langsung kepada mereka, tanpa mengambil sedikit pun. Tapi jika mendapat hadiah, sebagian dimakan dan sebagian lainnya diberikan kepada mereka.

Dalam hati kecilnya Abu Hurairah merasa berhak mendapat seteguk lebih dahulu, untuk mengembalikan kekuatan tubuhnya. Namun ia tak boleh membantah perintah Rasul. Dia pun pergi memanggil ahl shuffah itu. Dan Abu Hurairah disuruhnya membagikan susu itu kepada mereka.

Abu Hurairah memenuhi perintah Nabi, dan memberikan susu dalam gelas itu kepada orang pertama dari mereka, untuk diminum sampai puas. Demikian dilakukan kepada orang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya sampai semuanya minum puas, baru gelasnya dikembalikan kepada Nabi.

''Tinggal saya dan kau. Duduklah, minumlah,'' kata Nabi kepada Abu Hurairah yang menaati perintahnya. Dan Nabi selalu mengulangi, ''Minumlah!'' ''Demi Allah yang mengutus kau dengan haq, tidak ada lagi tempat dalam perutku,'' jawab Abu Hurairah. Kemudian Rasulullah meminta gelas itu. Sambil memuji syukur kepada Allah dan membaca Bismillah, ia meminum sisa susu itu.

Kisah di atas memberi pelajaran berharga bahwa kita tak boleh khawatir dengan yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya. Kita diajari untuk tidak hanya mengandalkan hitungan matematik, tapi juga ketakwaan.

Minggu, 23 Desember 2007

Suratan Takdir

Bumi ini tempat berpijak
Penuh penghuni
Makin terasa memanas
Tanpa batas waktu

Ada cerita hidup
Dalam bingkai bunga-bunga indah berseri
Datang silih berganti
Berubah warna

Ada derita
Ada cinta
Ada harapan
Ada putus asa

Dulupun mengenyam keindahan
Namun berbalik rasa kecewa
Langit dan bumi telah jadi saksi
Ditengah kehidupan bergejolak

Inilah suratan takdir
Yang telah dijalani
Dan harus dialami setiap insan
Sekalipun kegetiran datang menghampiri

Kamis, 06 Desember 2007

Takdir Hidup

Hidup didunia ini penuh liku-liku dan masalah.Keadaan itu mendorong manusia untuk berpikir jernih dalam mengatasinya.memang manusia yang sejati harus punya cita-cita setinggi langit.Dalam bahasa filosof syairnya Muhammad Iqbal berkata, manusia harus berpartisipasi secara intensif dalam gerak alam semesta,namun harus dalam ridha Allah.
segala sesuatu potensi untuk berpartisipasi secara intensif adalah takdir hidup yang mengitari membentuk tujuan akhirnya sebagai penyesuain diri terhadap alam.Dan manusia dalam gerak alam harus menumpahkan segala energinya untuk berkembang mencapai harapan.Proses perubahan itu bisa terjadi dengan cepat bila seseorang atau kaum mau mengubah nasibnya sendiri sebelum Tuhan mau mengabulkan.Pernyataan itu sesuai dengan ayat Al-qur'qn dalam terrjemahannya:"Sesungguhnya allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada suatu golongan,sehingga mereka sendiri menubah apa yang ada pada diri mereka sendiri''(Q.S.Ar-Ra'ddu(13):11
Apa yang menjadi cita-cita dan harapan manusia harus yang ada kaitannya membawa kemungkinan bisa terjadi.Bila apa yang dikerjakan manusia itu disertai do'a dan dzikir mengalami kegagalan maka manusiaharus berserah diri.Karena itu semua sudah menjadi takdir hidup yang dialami setiap orang.Setiap kehidupan manusia yang dialami pasti memiliki kesengsaraan yang berbeda.Takdir hidup yang diimpikan manusia kadang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.Penderitaan didunia ini jenisnya banyak sekali seperti mencari nafkah,berumah tangga,mengharapkan cinta,harta,kedudukan dan lain-lain.
Garis hidup manusia memang sudah dirancang oleh Tuhan.Untuk bisa mengubah takdir hidup yang dijalani langkah selanjutnya yaitu:
a.kita harus berjuang semaksimal mungkin dan berdzikir serta berdo'a meminta harapan yang baik dan positif
b.harus luas pandangan dalam berpikir dengan cara memiliki kekayaan hati,kekayaan ilmu.
c.tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan hidup
d.harus ptofesional sebagai kunci sukses dalam mencintai dan menikmati apa yang dikerjakan
e.melupakan kegaalan menyedihkan pada masa lalu.
f.memiliki pedoman hidup yang kuat serta memiliki landasan ilmu hidup yang memadai.
Semoga saja roda perputaran hidup ini mampu diikuti manusia dari berbagai lapisan umat dengan rasa bahagia.indah dan nyaman.